Search This Blog

Friday, February 10, 2017

Populasi dan Tehnik Pengambilan sampel



Populasi dan Tehnik Pengambilan Sampel 


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentubyang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.  Misalnya kita akan melakukan penelitian di sekolah x, maka sekolah X ini merupakan Populasi. Sekolah X mempunyai sejumlah orang/subyek dan obyek lain, hal ini berarti populasi dalam arti jumlah/kuantitas, tetapi sekolah X juga mempunyai karakteristik orang-orangnya, misalnya motivasi kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinanya, iklim organisasinya dan lain-lain.[1]

Dalam penelitian, jika kita hanya meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut,  penelitian sampel. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk mengeneralisasikan  hasil penelitian sampel. Yang dimaksud dengan menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi.  Lalu kapankah kita boleh mengadakan penelitian sampel? Penelitian sampel baru bisa dilaksanakan apabila keadaan subjek di dalam populasi benar-benar homogen. Apabila subjek populasi tidak homogen, maka kesimpulannya tidak boleh diberlakukan bagi populasi. Misalnya untuk menguji manisnya teh, seluruh gelas yang berisi teh merupakan populasi, diambil beberapa gelas dan mencicipinya dengan sendok, jika rasanya manis, maka bisa digeneralisasikan untuk teh yg sudah dibuat dalam jumlah banyak dalam gelas-gelas itu adalah manis semua.[2]
Dalam penelitian, penarikan sampel penting sekali, karena tujuan penarikan sampel dari populasi adalah untuk memperoleh informasi mengenai populasi tersebut, maka sampel yang diambil harus yang representatif, yang benar-benar mewakili semua. Hal yang pertama dalam penarikan sampel ialah penetapan ciri-ciri populasi yang menjadi sasaran dan akan mewakili oleh sampel.  Dalam penelitian mengenai sikap dan nilai-nilai yang dimiliki kaum remaja Indonesia, maka populasi sasaran adalah semua anak laki-laki dan perempuan Indonesia yang berusia antara 12-21 tahun, asalkan istilah remaja itu secara operasional telah dirumuskan sebagai periode antara usia 12-21. Akan tetapi, karena biasanya kita tidak mungkin mencapai seluruh populasi sasaran, maka kita harus menetapkan ciri-ciri bagian populasi yang dapat dijangkau, biasanya disebut populasi yang dapat dapat dijangkau (accessible population). Dari pupolasi yang dapat dijangkau inilah, kita dapat memilih sampel sedemikian rupa, sehingga sampel tersebut mencerminkan populasi. [3]

Belum ada sampel yang bisa mewakili karateristik populasi sebenarnya. Oleh karena itu, dalam penarikan sampel senantiasa melekat kesalahan-kesalahan, yang dikenal dengan nama sampiling errors. Presisi diukur oleh simpangan baku (Standar Error). Makin kecil perbedaan di antara simpangan yang diperoleh dari sampel (S) dengan simpangan baku dari populasi, maka tinggi pula tingkat presisinya. Walaupun tidak selamanya, tingkat presisi mungkin bisa meningkat dengan cara menambahkan jumlah sampel, karena kesalahan mungkin bisa berkurang kalau jumlah sampel ditambah. [4]

Adapun Tehnik-tehnik  pengambilan sampel adalah sebagai berikut: 

Simple Random Sampling
Pengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.[5]

Propostionate Stratified Random Sampling
Stratified  random sampling adalah sampel yang ditarik dengan memisahkan elemen-elemen populasi dalam kelompok-kelompok yang tidak overlapping[6]. Tehnik ini digunakan apabila populasi mempunyai anggota yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Contoh: suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latarbelakang pendidikan yang berbeda-beda , maka populasi itu berstrata. Misal S1=45 orang, S2= 30 orang, S1= 20 orang dan Diploma = 15 orang, jadi  jumlah populasi 110 . Jumlah sampel harus diambil meliputi strata tersebut.[7] jumlah sampel yang diambil dengan taraf kesalahan 5 % untuk  populasi berjumlah 100 berarti 84 orang (tulisan berikutnya akan membahas lebih detail cara mengambil jumlah sampel).



Disproportionate Stratified Random Sampling
Tehnik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional, misalnya pegawai dari unit kerja tertentu 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, dan 90 orang lulusan  SMA 800 orang,  maka 3 orang lulusan S3 dan  4 orang lulusan S2 tadi diambil semua karena kedua kelompok ini terlalu kecil dibanding kelompok lainnya[8]. Kelompok yang jumlahnya banyak diambil jumlah sampelnya

Cluster sampling
Cluster sampling adalah tehnik memilih sebuah sampel dari kelo mpok-kelompok unit-unit yang terkecil atau cluster. Tiap cluster sifatnya  mempunyai anggota yang heterogen menyerupai populasi sendiri.

Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah tehnik  pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya: anggota populasi yang terdiri 100 orang, dari semua itu diberi nomor urut dari 1 sampai 100. Pengambilan sampel dapat diambil dengan nomor ganjil saja, atau genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu[9].  

Sampling Kuota
Quota sampling merupakan metode penetapan sampel dengan menentukan quota terlebih dahulu pada masing-masing kelompok, sebelum quota masing-masing kelompok terpenuhi, penelitian belum dianggap selesai. Tehnik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proporsional,  tetapi tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja. Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki% dan perempuan 40%. Jika seorang peneliti ingin mewawancarai 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi, maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang, sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Tehniknya tidak  diambil secara acak, melainkan secara kebetulan saja. [10]

Sampling Incidental
Sampling insidental adalah tehnik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siap saja kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

Purposive Sampling
Sampel ini diambil dengan cara mengambil subyek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Tehnik ini biasanya dilakukan karena beberapa pertimbangan, misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga memilih tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Syarat-syarat menggunakan tehnik ini adalah:
1.    Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri-ciri pokok populasi.
2.    Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subjek  yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi (key subjectis).
3.    Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi pendahuluan.[11]

Sampling Jenuh
Sampling jenuh adalah tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasidijadikan sampel.[12]

Snowball Sampling
Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama menunjukkan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Dalam snowball sampling, responden yang terpilih menjadi sampel penelitian diperoleh secara berantai atas informasi yang diberikan oleh informan sebelumnya. Tehnik seperti itu adalah tehnik pengambilan sampel yang semula jumlah kecil, tetapi makin lama makin banyak. Misal sampel tentang pemakai narkoba, maka sampel pertama ini bisa menunjukkan pengguna narkoba yang lain.[13]





Rujukan
Ary, Donald dkk. 2011. PengantarPenelitian Dalam Pendidikan. Penerjemah: Arif Furchan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Arikunto,  Suharsismi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT: Rineka Cipta. Cet. XIV.
Darmawan, Deni. 2014. Metode Penelitian Kuantitati.  cet. II. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Nazir, Moh. 2013. Metode Penelitian. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.   Cet. VIII.

Sugiyono. 2011.  Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: ALFABETA, Cet. XIV.



[1] Sugiyono. 2011.  Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: ALFABETA, Cet. XIV. H. 80.
[2] Suharsismi Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT: Rineka Cipta. Cet. XIV H. 174-175.
[3] Donald Ary dkk. 2011. PengantarPenelitian Dalam Pendidikan. Penerjemah: Arif Furchan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. H. 195.
[4] Deni Darmawan. 2014. Metode Penelitian Kuantitati.  cet. II. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. H. 141.
[5] Sugiyono. 2011.  Metode Penelitian ....
H. 82
[6] Moh. Nazir. 2013. Metode Penelitian.  Cet. VIII. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia. H. 258
[7] Ibid., H. 82
[8] Ibid., H. 83
[9] Sugiyono. 2011.  Metode Penelitian ....H. 84
[10] Deni Darmawan. 2014. Metode Penelitian.... H. 152
[11] Suharsismi Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian ....H. 183
[12] Sugiyono. 2011.  Metode Penelitian ....H. 85
[13] Ibid, H. 153

Sunday, February 5, 2017

Apa Itu Variabel





Apa Itu Variabel 


 Biasanya kalau berada di kelas penelitian, sering ditanya  apa sih variable itu?. Kalau konsultasi ke dosen pembimbing, ditanya variablenya apa?  Menurut Sugiyono ( 2011) kalau ada pertanyaan tentang apa yang diteliti, maka jawabannya berkenaan dengan variable penelitian. Jadi variable penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulan.[1] Menurut Nazir variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai.  Misal berat badan adalah variabel karena ada keragaman nilai bisa 45 kg, bisa 47,3 kg, dan sebagainya. Seks adalah variabel karen  mempunyai dua keragaman laki-laki dan perempuan. [2]
Variabel dapat dibedakan, kuantitatif dan kualitatif. Contoh variabel kuantitatif: luas kota, umur, banyak jam dan sebagainya. Contoh variabel kualitatif: kemakmuran kepandaian. Lebih jauh variabel kuantitatif diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu variable diskrit dan variabel kontinum.
1.       Variabel diskrit: disebut variable diskrit disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik karena hanya dapat mengkategorikan atas 2 kutub yang berlawanan seperti “ya/tidak”, “wanita/Pria”. “hadir/tidak hadir”, “atas/bawah”. Angka yang digunakan dalam variabel diskrit ini untuk menghitung, misal berapa yang banyak pria, banyak yang hadir dan sebagainya. Maka angka dinyatakan sebagai frekuensi.
2.       Variabel kontinum: dibagi menjadi 3 variabel kecil yaitu:
a.       Variabel ordinal, yaitu yang menunjukan tingkatan-tingkatan misalnya panjang, kurang panjang, pendek.
b.      Variabel interval, yaitu variabel yang mempunyai jarak, jika dibanding dengan variabel lain, sedangkan jarak itu sendiri dapat diketahui dengan pasti. Misal suhu udara dan jarak antar kota.
c.       Variabel ratio, yaitu variabel perbandingan. Misal berat badan pak Karto 70 kg sedangkan anaknya 35 kg, maka pak Karto beratnya dua kali berat anaknya.[3]
Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain, maka macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok beriku ini:
1.       Variabel independen
Variabel ini sering disebut variabel stimulus, predictor antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
2.       Variabel Dependen
Sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
3.       Variabel moderator
Variabel yang memengaruhi (memperkuat dan memparlemen) hubungan antara variable independen dengan dependen. Variabel  disebut juga sebagai variabel independen kedua.
4.       Variabel Intervening
Variabel yang secara teoritis mempengaruhi (memperkuat) hubungan antara variabel independen dengan dependen, tetapi tidak dapat diamati dan diukur.
5.       Variabel Kontrol
Variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan  sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.[4]


[1] Sugiyono. 2011.  Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: ALFABETA, Cet. XIV. H. 38
[2] Moh. Nazir. 2013. Metode Penelitian. Bogor: Penebit Ghalia Indonesia. Cet. VIII. H. 107
[3] Suharsismi Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT: Rineka Cipta. Cet. XIV. H.  159-160
[4] Deni Darmawan. 2013. Metode Penelitian  Kuantitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.  Cet. II. H. 109-110

Saturday, February 4, 2017

استراتيجيات تعلم اللغة العربية بوصفها اللغة الأجنبية لدى الطلبة في قسم تربية اللغة العربية في جامعة بالنكا ريا الإسلامية الحكومية




استراتيجيات تعلم اللغة العربية  بوصفها اللغة الأجنبية لدى الطلبة  في قسم تربية اللغة العربية 
 في جامعة بالنكا ريا الإسلامية الحكومية   


Paper Presented at International Conference: The Dynamic Thought and Struggle of the Arabic and Islamic Education in Southeast Asia Held by Islamic Faculty of University of Muhammadiyah Malang, East Java, Indonesia on February 3-4, 2017

 
Nurul Wahdah
nurulwahdahplk@yahoo.com

المستخلص
إن للتعلمين  الطرق الخاصة في الحصول على المعرفة أو التعامل معها، وهذه  الطرق هي ما انطلقت عليها استراتيجيات التعلم.  و هي تكون جسورا تربط فروق المتعلم الفردية والعوامل البيئية والتحصيل الدراسي.  هذه الدراسة تهدف لكشف استراتيجيات تعلم اللغة العربية لدى الطلبة في قسم تربية اللغة العربية في جامعة بالنكا ريا الإسلامية الحكومية. تقام الدراسة باستخدام استبانة قائمة استراتيجيات تعلم اللغة  لريبكا أكسفورد  (1990) . نتيجة البحث تدل على أن الاستراتيجيات التي يستخدمها الطلبة  متنوعة و مختلفة  و أكثر استخداما هي الاستراتيجية فوق المعرفية بوسطها الحسابي 3.78 و أقل هي الاستراتيجية التعويضية بوسطها الحسابي 2.98. أما الاستراتيجيات الأخرى المستخدمة بوسطها المعتدل هي الاستراتيجية التذكرية  بوسطها الحسابي 3.33، و الاستراتيجية المعرفية بوسطها الحسابي 3.28،  و الأستراتيجية الوجدانية بوسطها الحسابي 3.39،  و الإستراتيجية الاجتماعية بوسطها الحسابي 3.44 . فعلى محاضري اللغة العربية أن يهتموا اهتماما الاستراتيجيات لدى الطلبة ليكون التعلم و التعليم يجري على قدر فعال ممكن. 
كلمات المفتاح: اللغة العربية و استراتيجيات تعلم اللغة
أ‌.       المقدمة
النجاح في تعلم اللغة الأجنبية أو الثانية (L2) يعتمد على مجموعة متنوعة من العوامل مثل مدة وشدة دورة في اللغة، وخصائص المعلمين وقدراتهم، وكمية من فرص ممارسة اللغة الثانية الطبيعية، وأخيرا خصائص متعلمي اللغة حيثما كانوا يحملون "الأمتعة الشخصية" إلى دورة  اللغة التي سيكون لهم تأثيرا كبيرا على كيف حصيلة التعلم.[1]
كما عرفنا أن كلّ متعلمٍ له طريقتُه أو طرقُه الخاصة في الحصول على المعرفةِ أو التعاملِ معَها، وهذه الطريقةُ أو الطرقُ هي ما نُطلِق عليها: إستراتيجيات التعلُّم. والإستراتيجياتُ بدورِها تنقسمُ إلى أنواع؛ منها ما يختصُّ بمهارة الكلامِ، ومنها ما يختصُّ بمهارة الاستماعِ، ومنها ما يختصُّ بمهارة القراءةِ، ومنها ما يَختص بمهارة الكتابةِ.
وجدت الدراسة أن تيار تعليم اللغات وتعلمها منذ حوالي أربعين سنة السابقة  تغيّر اتجاهها من التعليم إلى التعلم؛ ومن الاهتمام بأساليب المعلم في تعليم اللغات إلى الاهتمام باستراتيجيات المتعلم في تعلم اللغة الثانية أو الأجنبية، وصار التركيز على المتعلم  في مجال تعلم اللغات وتعليمها، وبدأت النظريات تتجه إلى تحديد استراتيجيات تعلم اللغة.[2]  
الدراسات منذ 1970 عززت أن استراتيجيات التعلم المختلفة   تؤثر على نتائج تعلم المتعلمين.  نتائج الدراسة عند Grainger  تشير إلى أن الآثار الخلفية الثقافية بشكل كبير على اختيار الاستراتيجيات. نتيجة هذه الدراسة أيضا تشير إلى أن الطلاب الآسيين استخدموا استراتيجيات كثيرة  وبطرق مختلفة. والاستنتاج الذي يوصل إليه هو أن بيئة تعلم اللغة، فضلا عن قدرة متعدد اللغات يمكن أن تكون عاملا مهما في اختيار الاستراتيجيات.[3] و كذلك دراسة Zare   خلصت النتائج إلى أن توظيف استراتيجيات تعلم اللغة يسهل و يحسّن تعلم اللغة ويساعد متعلم اللغة بطرق مختلفة.[4] أما دراسة خوالدة كشفت أن مستوى استخدام استراتيجيات تعلم اللغة العربية كلها كانت معتدلة لدى متعلمي اللغة العربية الماليزيين في جامعة اليرموك بالاستراتيجيات الأكثر استخداما هي الأستراتيجيات التعويضية و الوجدانية. وأظهرت النتيجة أيضا وجود فروق ذات دلالة إحصائية في استخدام استراتيجيات التعلم عبر التخصص و الجنس.[5]
أساسا على نتيجة الدراسات  السابقة  قمنا بدراسة مسحية في استراتيجيات تعلم اللغة العربية بوصفها اللغة الأجنبية  لدى طلبة  قسم تربية اللغة العربية  جامعة بالنكا ريا الإسلامية الحكومية  كالمنتان الوسطى.

ب‌.  نظرية استراتيجيات تعلم اللغة
إن عملية الاستذكار(Studying)  التي يمارسها الطلاب  ترتبط بمواقف التعلم المختلفة، و خاصة تعلم الموضوعات الأكاديمية بكثير من المهارات التي تحقق فاعلية هذه العملية. و لعملية الاستذكار  عملية  طبيعات خاصة حيث أنها أساسا عملية موجهة ذاتيا  منها: 1)  أن عملية الاستذكار تحتاج إلى جهد خاص من الدارس بدرجة أكبر، 2) أنها تتصل بطبيعة هذه العملية حيث أن  عملية الاستذكار نشاط عملي يحتاج إلى إنفراد الفرد بنفسه بعيدا عن الآخريى لكي تتحقق فاعلية الاستذكار على عكس التعلم الأكاديمي في إشكاله المختلفة، 3) أنها تتصل بمكونات هذه العملية  فبرغم أن الاستذكار عملية معرفية لأنها تعتمد على كفايات الفرد و ترتكز كفائته الشخصية إلا أن هذه العملية  لها جانب وجداني لا يستطيع الإغفال في تحليليها، 4) أنها تعتمد على إطار الموقف الذي يوجه فيه المتعلم. [6] و لذلك  يجب على المتعلمين أن يفهموا استراتيجاتهم و فضلا عن ذلك عليهم أن يتعلموا الاستراتيجيات الجيدة و الملائمة لديهم.
عرف براون الاستراتيجية: "إنها طريقة معينة لمعالجة مشكلة، أو هي أسلوب عملي لتحقيق هدف معين، أو تدابير مرسومة للتحكم في معلومات معينة والتعرف عليها".[7]  وعرف  Cohen (1985)  في Macaro "أن استراتيجيات متعلم اللغة تشمل تعلم اللغة الثانية و استراتيجيات استخدام اللغة الثانية كلتيهما. وقد أخذها المتعلم معا  و شكل الخطوات أو الإجراءات المحددة واعيا  سواء أكان لتعلم اللغة الثانية،  استخدامها، أو كلتهما معا.[8] أما عند أكسفورد أن استراتيجيات التعلم  هي الخطوات التي يتبعها الطلاب من أجل تعزيز تعلمهم. وهي قالت إنها مهمة في تعلم اللغة إلى وجه الخصوص حيث إنها أدوات مهمة تتسم بالفاعلية و التوجيه الذاتي.[9]  فأصبحت إستراتيجيات التعلم متداولة على نطاق واسع فى مجال التربية بصورة عامة وتحت أى مسمى سواء أكانتمهارات التعلم أو"Learning Skills" أو مهارات تعلم كيفية التعلم " Learning to Learn Skills" أو مهارات التفكير "Thinking Skill" أم مهارة حل المشكلة "Problem-Solving Skill". [10]
كانت استراتيجيات التعلم متنوعة وكل الاستراتيجات تدعم بعضها بعض بطريقة مختلفة. فصّل جابر أنماط الإستراتيجيات إلى الأربعة وهي استراتيجيات السرد و الحفظ (السؤال و الجواب)، استراتيجيات التفصيل و التوضيح، و استراتيجيات التنظيم و الاستراتيجيات الميتامعرفية.[11] الدراسة عند O’Malley  و Chamot كشفت أن الاستراتيجات المستخدمة عند متعلمي اللغة الأجنبية  تمكن للتصنيف  على الاستراتيجيات المعرفية و الاستراتيجيت الميتامعرفية و الاستراتيجيات الوجدانية أو الاجتماعية. [12] بينت  أكسفود أن بعض استراتيجيات التعلم تأثر بشكل مباشر على تعلم اللغة و تعرف باسم  الاستراتيجات المباشرة، بينما البعض الآخر بقوة شديدة ولكن بشكل غير مباشر في عملية التعلم وتعرف باسم الاستراتيجات غير المباشرة.[13] وتنقسم هذان الفئتان إلى ست مجموعات. الاستراتيجيات المعرفية (Cognitive Strategies) و الاستراتيجيات التذكرية  (Memory Strategies)و الاستراتيجيات التعويضية (Compensation Strategies)  تحت فئة الاستراتيجيات المباشر، بينما الاستراتيجيات فوق المعرفية (Metacognitive Strategies)و الاستراتيجيات الوجدانية (Affective Strategies) و الاستراتيجيات الاجتماعية  (Social Strategies)تحت فئة الاستراتيجيات غير المباشرة.[14]
في السنوات الآخرة، عديد من الدراسات كشفت  الاستراتيجيات في تعلم اللغة، مثلا  دراسة عند مصطفى و عيسى (2014) دلت على أن متعلمي اللغة العربية  في الجامعة الإسلامية العالمية بماليزيا استخدموا متنوعة استراتيجيات تعلم المفردات  وأن الترجمة كانت أكثرها استخداما،[15] و دراسة   Khazaie  و  Mesbah  (2014 ) دلت على أن المتعلمات  استخدمن أكثر الاستراتيجات من المتعلمين. هن استخدمن الإستراتيجيات المعرفية و فوق المعرفية و الاجتماعية بينما المتعلمون استخدموا الاستراتيجيات التعويضية الأكثر. [16] دراسة عند  الخوالدة (2015) دلت أن متعلمي اللغة العربية الماليزيين في جامعة اليرموك استخدموا ست الاستراتيجات على المستوى المتوسط إجماليا و وجد الفرق ذات الدلالة الإحصائية بين الذكور و الإناث في استخدام الاستراتيجيات.[17]
عديد من الباحثين  أيضا قائمون بالدراسات الارتباطية  التي تربط  استراتيجيات تعلم اللغة بالجوانب الأخرى من المجال النفسي كمثل العلاقة بين سمات الشخصية و استراتيجيات تعلم اللغة. الدراسة عند    Mei Ling ChenوLi-Mei Hung  (2012) دلت على أن المتعلمين التيوانيين    المنبسطين استخدموا الاستراتيجيات الذاكرة و  المعرفية و التعويضية  و فوق المعرفية  و الوجدانية و الاجتماعية  أكثر من الطلاب التيوانيين المنطويين. وهذه الدراسة لا تتماشى بدارسة Oxford  و Erham السابقة.  أما الاستراتيجيات الأكثر استخداما عند المتعلمين هي  الاستراتيجية  التعويضية (Compensation Strategy). و هذه الدراسة وافقت بالدراسة Bedell  و Oxford   (1996) التى حصلت على  الاستنباط المبدئي أن  ارتفاع استخدام الاستراتيجية التعويضية  يمكن أن يكون مثاليا للطلاب الآسيين.[18] . أما الداسات الآخرى كمثل Bidjerano و Dai (2007)، Chen و  Hung (2012) ، Kang (2012) Liyanage و Bartlett (2013)،  و  Asmali (2014). وكانت سمة الشخصية  تأثر في اختيار استراتيحيات تعلم اللغة.

ج. المنهجية
أستخدمت الباحثة  بحثا كميا بالمنهج المسحي.  مشاركو البحث هم الطلاب في قسم تربية اللغة العربية في جامعة بالنكا ريا كالمنتان الوسطى إندونيسيا بعدد 47 طالبا يتكون من 19 طالبا و 27 طالبة. الاستبانة المستخدمة هي  قائمة إسراتيجيات تعلم اللغة   (Strategy Inventory for Language Learning  ) لأكفورد 1990   باختيار إحدى المقدار المعياري  من  1-5  التي تدل على اتفاقه . 1 = لا أفعل ذلك دائما،  2= لا أفعل ذلك أعلب الوقت،  3 = أفعل ذلك أحيانا،  4= أفعل ذلك أعلب الوقت ، 5= أفعل ذلك دائما. تحليل البيانات باستخدام الوسط الحساب  Arithmetic Mean)) لكل الاستراتيجة يحسب  وسطها الحسابي بطريقة ضرب  التكرار (Frequency) في المقدار المختار(Score). المعيار القياسي  لمعرفة أهلية (َQualification ) استخدام الاستراتيجيات (أكسفورد، 1996: 263)  كما يلي:
منخفض : الوسط الحسابي  2.44 - 1.00
متوسط  : الوسط الحسابي 3.44 - 2.45
عال    : الوسط الحسابي   5.00 – 3.45
د. نتيجة البحث و المناقشة
الاستراتيجيات التي يستخدمها طلاب قسم تربية اللغة العربية متنوعة و درجتها مختلفة. جودل استراتيجيات تعلم اللغة العربية عندهم فيما يالي:
استراتيجيات تعلم اللغة

لللإناث
للذكور
الوسط الحسابي
الانخراف المعياري
الاستراتيجيات التذكرية
3.44
3.19
3.33
0.54
الاستراتيجيات المعرفية
3.22
3.38
3.28
0.43
الاستراتيجيات التعويضية
2.95
3.02
2.98
0.57
الاستراتيجيات فوق المعرفية
3.81
3.76
3.78
0.50
الاستراتيجيات الوجدانية
3.39
3.38
3.39
0.55
الاستراتيجيات الاجتماعية
3،01
3.61
3.44
0.61
الوسط الحسابي
3.30
3.39
3.44
0.39
أساسا على  الجدول 2  السابق، يعرف أن الاستراتيجيات فوق المعرفية التي يستخدمها الطلبة الأكثر سواء أ كان من الإناث أم الذكور هم يميلون إليها بوسطهم الحسابي3،78  بالانخراف المعياري  0،50 حيثما الوسط الحسابي  للإناث 3،81 أكبر ميولا من الذكور(3،76).  الاستراتيجيات الاجتماعية تكون في الترتيب الثاني بالوسط الحسابي3،44   بالانخراف المعياري  0،61 حيثما الوسط الحسابي للإناث 3،01 أسفل من الذكور 3،61. الاستراتيجات الوجدانية  تكون في الترتيب الثالث بالوسط الحسابي 3،39 و الانخراف المعياري 0،55 حيثما الوسط الحسابي للإناث 3،39 أكبر قليلا من الذكور 3،38.  الاستراتيجيات التذكرية   تكون في الترتيب الرابع  بالوسط الحسابي 3،33 الانخراف المعياري 0،54 حيثما الوسط الحسابي للإناث 3،44 أكبر من الذكور 3،19.  الاستراتيجيات المعرفية   تكون في الترتيب الخامس  بالوسط الحسابي 3،28 الانخراف المعياري 0،43 حيثما الوسط الحسابي للإناث 3،22  أسفل من الذكور 3،38 .  الاستراتيجية التي يستخدمها الطلاب الأقل هي الاستراتيجية التعويضية بالوسط الحسابي 2،98 الانخراف المعياري 0،57 حيثما الوسط الحسابي للإناث 2،95   أسفل  من الذكور 3،02
وفيما يلي تفصيل  الأستراتيجيات  التي يستخدمها الطلبة
1.  الأستراتيجيات التذكرية
رقم
الاستراتيجيات التذكرية
                               
الوسط الحسابي
1
أنا أحاول  أن أجد علاقات بين ما أعرفه بالفعل و الأشياء الجديدة  التي أتعلمها باللغة العربية.
3.49
2
أنا أضع الكلمات الجديدة في اللغة  العربية في جمل باللغة العربية حتى أتذكرها.
3.28
3
أنا أربط بين صوت الكلمة الجديدة في اللغة العربية و صورة معينة أو خيال في ذهنى لنفس الكلمة حتى أسطيع تذكرها
3.49
4
أنا أتذكر الكلمة الجديدة في اللغة العربية بعمل صورة ذهنية لموقف معين يمكن أن تستخدم فيه تلك الكلمة.
3.34
5
أنا أستخدم  السجع لتذكر الكلمات
3.17
6
أنا أقوم بتمثيل الكلمات الجديدة في اللغة العربية
3.27
7
أنا أستخدم بطاقات لتذكر الكلمات الجديدة في اللغة العربية
2.7
8
أنا أراجع بصورة منتظمة دروس اللغة العربية
3.62
9
أنا أتذكر الكلمات أو العبارات الجديدة في اللغة العربية بتذكر موقعها في الصفحة أو على السبورة أو  على أي يافطة في الشارع
3.68
الوسط الحسابي
3.33
2.           الأستراتيجيات المعرفية
رقم
الاستراتيجيات المعرفية
الوسط الحسابي
1
أنا أكتب أو أقول الكلمات الجديدة في اللغة العربية مرات عديدة
3.23
2
أنا أحاول أن أتكلم كما يتحدث المتحدثون الأصليون اللغة العربية
3.57
3
أنا أتدرب على نطق أصوات في اللغة العربية
3.53
4
أنا أستخدم الكلمات التي أعرفها باللغة العربية بطرق مختلفة
3.34
5
أنا أحرص على أن أبدأ حوارات باللغة العربية بطريق مختلفة
3.19
6
أنا أشاهد برامج التليفزيون أو الأفلام الناطقة باللغة العربية
2.77
7
أنا أقرأ من أجل المتعة باللغة العربية
3.57
8
أنا أكتب ملاخظات أو خطابات أو رسائل أو تقارير باللغة العربية
2.74
9
أنا ألقي نظرة عامة سريعة على القطعة التى أقرأها باللغة العربية ثم أعود و أقرأها مرة أخرى بعناية
3.13
10
أنا أبحث عن الكلمات الموجودة في لغتي الأم و التي تتشابه مع كلمات في اللغة العربية
3.43
11
أنا أحاول أن أجد أنماط تركيبية في اللغة العربية
3.36
12
أنا قد أعرف معنى كلمة ما باللغة العربية بتقسيمها إلى أجزاء. أعرف معنى كل جزء منها.
3.64
13
لا أحاول أن أقوم بالترجمة الحرفية
3.34
14
أنا أقوم  بتلخيص ما أقرأه أو أسمعه باللغة العربية
3.19
الوسط الحسابي
3.28
3.    الأستراتيجيات التعويضية
رقم
الاستراتيجيات التعويضية
الوسط الحسابي
1
أنا أقوم بالتخمين  لفهم الكلمات غير المألوفة في اللغة الأنجليزية
3.21
2
عندما أتحدث باللغة العربية و لا أجد الكلمة المناسبة فإنني أستخدم الإشارات للتعبير عنها
3.06
3
عندما أتحدث باللغة العربية  و لا أجد الكلمة المناسبة فإنني بتخليق كلمات جديدة من تأليفي
3.09
4
أنا أقرأ اللغة العربية دون الاستعانة بالقاموس لمعرفة كل كلمة جديدة
2.78
5
أنا أحاول أن أخمن ما سوف يقول شخص ما أجرى معه حديث باللغة العربية
3
6
عند أتحدث اللغة العربية ولا أجد الكلمة المناسبة فإنني أستخدم كلمة أو عبارة تعنى نفس الشيء
2.7
الوسط الحسابي
2.98

4.    الأستراتيجيات فوق المعرفية
رقم
الاستراتيجيات فوق العرفية
الوسط الحسابي
1
أنا أحاول أن أخلق أكبر قدر ممكن  من الفرص لأستعمل اللغة العربية
3.68
2
أنا ألاحظ الأخطاء التي أرتكبها في اللغة العربية و أستفيد من هذه المعلومات لتصحيح أخطائي.
3.89
3
أنا أحرص على معرفة كيف يمكنني أن أتعلم اللغة العربية بصورة أفضل
3.85
4
أنا أركز انتهابي عندما يتحدث شخص ما باللغة العربية
4.02
5
أنا أقوم بتنظيم جدولي بحيث يصبح لدى وقت كاف لدراسة اللغة العربية
3.34
6
أنا أبحث عن الناس الذين أستطيع أن أتحدث معهم باللغة العربية
3.61
7
أنا أبحث عن فرض  للقراءة باللغة العربية
3.61
8
لدي أهداف واضحة تختص بتحسين مهارتي باللغة العربية
3.95
9
أنا أفكر في التحسن الذي أحرزه في  تعلم اللغة العربية
4.12
الوسط الحسابي
3.78
5.    الأستراتيجيات الوجدانية
رقم
الاستراتيجيات الوجدانية
الوسط الحسابي
1
أنا أحاول أن أهدأ من روعي  كلما شعرت بالخوف من التعامل باستخدام اللغة العربية
3.97
2
أنا أشجع  نفسي  على التحدث باللغة العربية حتى إذا كنت أخاف من ارتكاب أخطاء
3.68
3
أنا أكافئ نفسي إذا أنجزت  شيئا جديدا في اللغة العربية
3.14
4
أنا ألاحظ نفسي و أعلم متى أكون متوترا أثناء استخدام اللغة العربية
3.7
5
أعبر عن مشاعري بكتابتها في يوميات تختص بتعلم اللغة.
2.23
6
أنا أخبر البعض عن مشاعري نحو تعلم اللغة العربية
3.61
الوسط الحسابي
3.39

6.    الأستراتيجيات الاجتماعية
رقم
الاستراتيجيات الاجتماعية
الوسط الحسابي
1
إذا لم أفهم شيئا ما في اللغة العربية أقو بسؤال من يتحدث أن يتكلم بسرعة أقل  أو يكرر ما قاله مرة أخرى
3.65
2
أنا أطلب من الآخرين أن يصححوا لي أخطائي أرتكبها عنما أتحدث باللغة العربية
3.8
3
أنا أستخدم اللغة  العربية أثناء تعاملي مع الطلاب زملائي
3.25
4
أنا أطلب المعونة ممن يتحدثون اللغة العربية
3.65
5
أنا أسأل أسئلة باللغة العربية
3.04
6
أنا أحاول أن أدرس ثقافة المتحدثين باللغة العربية
3.25
الوسط الحسابي
3.44

هذه نتيجة البحث تشير  ضرورة ترقية  الوعي عند متعلمي اللغة باختيار واستخدام الاستراتيجيات الكثيرة العالية  الملاءمة في المراحل المختلفة من تعلم اللغة اللعربية بوصفها اللغة الأجنبية. و ينبغي  لمعلم اللغة أن يساعد المتعلمين في ترقية استراتيجياتهم التعلمية. معلم اللغة الجيد يحترم الفروق الفردية بين متعلمي وينبغي له أيضا أن يهتم بالاستراتيجيات التي يستخدمها و يختارها متعلمو اللغة.   يوجد هناك أيضا إشارة خفية لمصممي المناهج ومطوري المواد لاهتمام  استراتيجيات التعلم.  الزيادة على ذلك،  المناهج و المواد  والمهام والأنشطة التي تتطلب ليس فقط في تطوير استراتيجيات التعلم ولكن أيضا توفير الفرصة لتعليم استراتيجيات التعلم الجيدة ، و يمكن للمعلم  أيضا أن يساعد المتعلمين على الحفاظ على الدافع، و التعلم الذاتي، والثقة النفسية ومحاولة لتحقيق الهدف من تعلم اللغة العربية بوصفها اللغة الأجنبية.
يكون  معلم اللغة يحتاج  إلى دمج استراتيجيات تعلم اللغة عند المتعلمين في مداخل و طرق التعليم  و يقوم بتدريبهم  على تطبيق الاستراتيجية الملائمة لغرض معين أو منطقة معينة من المهارات، ويشجعهم على استخدام الاستراتيجيات على قدر  أكثر ممكن ويمكنهم  تعلم كيفية استخدام استراتيجيات تعلم اللغة لتحسين مهاراتهم اللغوية.  و من الممكن أن يحدث في الفصل، من المتتعلمين من يحصلون على النجاح المرتفع و منهم من يحصلون على النجاح المنخفض  في استيعاب الدروس. فيلزم معلم اللغة  تدارس استراتيجيات التعلم لدى المتعلمين  ومحاولة التعرف عليها  وتشخيصها من أجل دعم المتعلمين الذين لهم أقل نجاحا. ويمكن للمعلم تحديد هذه الاستراتيجيات  لديهم من خلال الملاحظات ويوميات اللغة و الاستبانات والمقابلات.  و بذلك، سوف يكون المعلم قادرا على مساعدة متعلمي اللغة ليدركوا  ويقدروا  قوة استراتيجيات تعلمهم  في عملية تعلم اللغة العربية بوصفها اللغة  الأجنبية.
هـ. الخاتمة
أساسا على  نتيجة البحث السابقة،  يعرف أن  الطلبة في قسم تربية  اللغة العربية  في جامعة  بالنكا ريا الإسلامية الحكومية  يستخدمون الاستراتيجيات الكثيرة و المتنوعة.   وهي الاستراتيجيات التذكرية و الاستراتيجيات المعرفية و  الاستراتيجيات التعويضية و  الاستراتيجيات فوق المعرفية و  الاستراتيجيات الوجدانية  و الاستراتيجيات  الاجتماعية.  وأكثر الاستراتيجيات استخداما  هي الاستراتيجيات فوق المعرفية و أقلها الاستراتيجيات التعويضية. و تستخدم الاستراتيجيات الأخرى عاما بدرجة معتدلة.  ينبغي للطلبة أن يستخدموا استراتيجياتهم على قدر  أكثر ممكن ليحصلوا على الإنجاز و التحصيل الدراسي الجيد. وكذلك على المحاضرين أن يهتموا باستراتيجيات تعلم اللغة  لدى طلبتهم في تعليم اللغة العربية  و يعلموهم  كيف  استخدام الاستراتيجيات جيدا في تعلم اللغة العربية بوصفها اللغة الأجنبية.


المراجع
أكسفورد، ريبيكا.(1996).  استراتيجيات تعلم اللغة. ترجمة وتعريب: السيد محمد دعدور. مكتبة الانجلو المصرية.   
الشرقاوي، أنور محمد. (2012). التعلم: نظريات و تطبيق.  القاهرة: مكبة الأنجلو المصرية.
براون ، دوجلاس. (1994). مبادئ تعلم وتعليم اللغة)، ترجمة الدكتور إبراهيم القعيد، والدكتور عيد الشمري ، مكتب التربية العربي لدول الخليج .
جابر، جابر عبد الجابر. (1999).  استراتيجيات التدريس و التعلم. القاهرة: دار الفكر العربي.
الخوالدة، محمد علي. (2015). إستراتيجيات تعلم اللغة العربية لدى الطلبة الماليزيين في جامعة اليرموك وعلاقتها بمتغيري التخصص والجنس. المجلة الأردنية في العلوم التربوية، مجلد 11 .
Cohen,  Andrew D.  (2009).  Focus on the Language Learner: Styles, Strategies and Motivation.  Applied Linguistics book. indb  17:06.
Chen, Mei-Ling and Hung,  Li Meng (2012). Personality Type, Perceptual Style Preferences, and Strategies for Learning English as a Foreign Language. Social Behavior And Personality. 40(9). Http://Dx.Doi.Org/10.2224/Sbp.2012.40.9.1501. P. 1507
Grainger, Peter. 2012. “The Impact of Cultural Background on the Choice of Language Learning Strategies in the JFL Context.” System 40 (4): 483–93. doi:10.1016/j.system.2012.10.011.
Khazaie,   Zeinab Moradi and Mesbah,   Zahra. (2014).   The Relationship between Extrinsic vs. Intrinsic Motivation and Strategic Use of Language of Iranian Intermediate EFL Learners. Theory and Practice in Language Studies, Vol. 4, No. 1,  doi:10.4304/tpls.4.1.99-109  pp. 99-109
Macaro, Ernesto. (2001).  Learning Strategies in Foreign and Second Language Classrooms. New York: Continuum
Mustapha, Nik Hanan and Isa,  Rabiatul Aribah Muhd. (2014). Istiraatiijiyyat al Mufradat al-Arabiyyah lada an Nathiqiina biـ Gairiha: al-Jami’ah al-Islamiyyah al-‘Alamiyyah Namudzajan. GJAT December 2014 VOL 4 ISSUE 2. E-ISSN : 2232-0482.  P. 125
O’Malley, J. Michael  and Chamot,  Anna Uhl. (1990).  Language Strategies in Language Learning Aquitition. Cambridge: Cـambridge University Press.
Zare, Pezhman. 2012. “Language Learning Strategies among EFL/ESL Learners: A Review of Literature.” International Journـal of Humanities and Social Science 2 (5): 162–169.
Zhou, Chaoying, and Channarong Intaraprasert. 2015. “Language Learning Strategies Employed by English-Major Pre-Service Teachers with Different Levels of Language Proficiency.” Theory and Practice in Language Studies 5 (5): 919. doi:10.17507/tpls.0505.05.


[1] Cohen,  Andrew D.  (2009).  Focus on the Language Learner: Styles, Strategies and Motivation.  Applied Linguistics book. indb  17:06. P. 161.
[2]Khaznakatbi, Hadia Adel.  (2014) Al-Istiratijiyaat al latii yastakhdimuha at ththalabah al Ajaanib ad Daarisuun lil lughah al Arabiyyah ka Lughah Tsaniyah fi Markazi al Lughatfi al Jamia’h al Urduniyyah tholabah al mustawa al saadis a namudzajan.  Marmara Üniversitesi İlâhiyat Fakültesi Dergisi Cilt-Sayı 46 Nisan 2014 ISSN 1302-4973 173-202 DOI 10.15370/muifd.09116 P.181
[3] Grainger, Peter. (2012).  The Impact of Cultural Background on the Choice of Language Learning Strategies in the JFL Context. System 40 (4): 483–93. doi:10.1016/j.system.2012.10.011.  P. 484
[4] Zare, Pezhman. (2012).  Language Learning Strategies among EFL/ESL Learners: A Review of Literature.  International Journـal of Humanities and Social Science 2 (5) P. 168.
[5] الخوالدة، محمد علي. (2015). إستراتيجيات تعلم اللغة العربية لدى الطلبة الماليزيين في جامعة اليرموك وعلاقتها بمتغيري التخصص والجنس. المجلة الأردنية في العلوم التربوية، مجلد 11 . ص. 169

[6] الشرقاوي، أنور محمد. (2012). التعلم: نظريات و تطبيق.  القاهرة: مكبة الأنجلو المصرية. ص. 201-202
[7] براون ، دوجلاس ،(مبادئ تعلم وتعليم اللغة)، ترجمة الدكتور إبراهيم القعيد، والدكتور عيد الشمري ، مكتب التربية العربي لدول الخليج ، ١٩٩٤ م. ص. ١٦١
[8]Macaro, Ernesto. (2001).  Learning Strategies in Foreign and Second Language Classrooms. New York: Continuum
[9] أكسفورد، ريبيكا.(1996).  استراتيجيات تعلم اللغة. ترجمة وتعريب: السيد محمد دعدور. مكتبة الانجلو المصرية.   ص.11
[10] Ibid. P. 120
[11] جابر، جابر عبد الجابر. (1999).  استراتيجيات التدريس و التعلم. القاهرة: دار الفكر العربي. ص. 319.
[12] O’Malley, J. Michael  and Chamot,  Anna Uhl. (1990).  Language Strategies in Language Learning Aquitition. Cambridge: Cambridge University Press. P. 128
[13] أكسفورد، ريبيكا.(1996).  استراتيجيات تعلم اللغة... ص. 26
[14] Ibid. P. 29
[15] Mustapha, Nik Hanan and Isa,  Rabiatul Aribah Muhd. (2014). Istiraatiijiyyat al Mufradat al-Arabiyyah lada an Nathiqiina bi Gairiha: al-Jami’ah al-Islamiyyah al-‘Alamiyyah Namudzajan. GJAT December 2014 VOL 4 ISSUE 2. E-ISSN : 2232-0482.  P. 125
[16]   Khazaie,   Zeinab Moradi and Mesbah,   Zahra. (2014).   The Relationship between Extrinsic vs. Intrinsic Motivation and Strategic Use of Language of Iranian Intermediate EFL Learners. Theory and Practice in Language Studies, Vol. 4, No. 1,  doi:10.4304/tpls.4.1.99-109  pp. 99-109
[17] الخوالدة، محمد علي. (2015). إستراتيجيات تعلم اللغة العربية لدى الطلبة الماليزيين في جامعة اليرموك وعلاقتها بمتغيري التخصص والجنس. المجلة الأردنية في العلوم التربوية، مجلد 11 ، عدد 2.  169-186
[18] Chen, Mei-Ling and Hung,  Li Meng (2012). Personality Type, Perceptual Style Preferences, and Strategies for Learning English as a Foreign Language. Social Behavior And Personality. 40(9). Http://Dx.Doi.Org/10.2224/Sbp.2012.40.9.1501. P. 1507




المراجع
أكسفورد، ريبيكا.(1996).  استراتيجيات تعلم اللغة. ترجمة وتعريب: السيد محمد دعدور. مكتبة الانجلو المصرية.   
الشرقاوي، أنور محمد. (2012). التعلم: نظريات و تطبيق.  القاهرة: مكبة الأنجلو المصرية.
براون ، دوجلاس. (1994). مبادئ تعلم وتعليم اللغة)، ترجمة الدكتور إبراهيم القعيد، والدكتور عيد الشمري ، مكتب التربية العربي لدول الخليج .
جابر، جابر عبد الجابر. (1999).  استراتيجيات التدريس و التعلم. القاهرة: دار الفكر العربي.
الخوالدة، محمد علي. (2015). إستراتيجيات تعلم اللغة العربية لدى الطلبة الماليزيين في جامعة اليرموك وعلاقتها بمتغيري التخصص والجنس. المجلة الأردنية في العلوم التربوية، مجلد 11 .
Cohen,  Andrew D.  (2009).  Focus on the Language Learner: Styles, Strategies and Motivation.  Applied Linguistics book. indb  17:06.
Chen, Mei-Ling and Hung,  Li Meng (2012). Personality Type, Perceptual Style Preferences, and Strategies for Learning English as a Foreign Language. Social Behavior And Personality. 40(9). Http://Dx.Doi.Org/10.2224/Sbp.2012.40.9.1501. P. 1507
Grainger, Peter. 2012. “The Impact of Cultural Background on the Choice of Language Learning Strategies in the JFL Context.” System 40 (4): 483–93. doi:10.1016/j.system.2012.10.011.
Khazaie,   Zeinab Moradi and Mesbah,   Zahra. (2014).   The Relationship between Extrinsic vs. Intrinsic Motivation and Strategic Use of Language of Iranian Intermediate EFL Learners. Theory and Practice in Language Studies, Vol. 4, No. 1,  doi:10.4304/tpls.4.1.99-109  pp. 99-109
Macaro, Ernesto. (2001).  Learning Strategies in Foreign and Second Language Classrooms. New York: Continuum
Mustapha, Nik Hanan and Isa,  Rabiatul Aribah Muhd. (2014). Istiraatiijiyyat al Mufradat al-Arabiyyah lada an Nathiqiina biـ Gairiha: al-Jami’ah al-Islamiyyah al-‘Alamiyyah Namudzajan. GJAT December 2014 VOL 4 ISSUE 2. E-ISSN : 2232-0482.  P. 125
O’Malley, J. Michael  and Chamot,  Anna Uhl. (1990).  Language Strategies in Language Learning Aquitition. Cambridge: Cـambridge University Press.
Zare, Pezhman. 2012. “Language Learning Strategies among EFL/ESL Learners: A Review of Literature.” International Journـal of Humanities and Social Science 2 (5): 162–169.
Zhou, Chaoying, and Channarong Intaraprasert. 2015. “Language Learning Strategies Employed by English-Major Pre-Service Teachers with Different Levels of Language Proficiency.” Theory and Practice in Language Studies 5 (5): 919. doi:10.17507/tpls.0505.05.